Oleh : Juanda Tri Ulandari, 2026
ILUSI KERAMAIAN DIGITAL
Pernahkah Anda meletakkan ponsel setelah berjam-jam melakukan scrolling, lalu tiba-tiba merasakan sunyi yang menyesakkan? Seolah-olah Anda baru saja kembali dari sebuah ruangan penuh orang, namun tak satu pun dari mereka mengenal nama Anda. Kita hidup di era di mana koneksi manusia hanya sejauh ketukan layar, namun secara paradoks, kita justru semakin terisolasi dalam 'gelembung' yang diciptakan oleh kode-kode komputer.
Inilah fenomena Algorithmic Loneliness (Kesepian Algoritmik). Di balik layar yang bercahaya, algoritma bekerja tanpa henti untuk menyajikan dunia yang hanya berisi hal-hal yang kita sukai. Alih-alih menghubungkan kita dengan keragaman dunia, teknologi ini justru mengurung kita dalam ruang gema (echo chamber) yang sempit. Kita tidak sedang bersosialisasi; kita hanya sedang menatap cermin digital yang memantulkan ego kita sendiri.
MEKANISME "PENJARA NYAMAN" ALGORITMA
Algoritma media sosial dirancang dengan satu tujuan tunggal: menahan perhatian Anda selama mungkin. Sistem ini mempelajari setiap klik, durasi tatapan, hingga jenis konten yang Anda lewatkan. Secara psikologis, ini menciptakan apa yang disebut sebagai Confirmation Bias (bias konfirmasi).
Kita kehilangan elemen kejutan dan tantangan dalam berinteraksi. Karena kita hanya disuapi konten yang sudah pasti kita setujui, kita kehilangan kemampuan untuk memahami perbedaan. Hidup digital kita menjadi terlalu terprediksi dan monoton, dan di situlah rasa bosan serta kesepian mulai merayap masuk secara perlahan.
MENGAPA ALGORITMA MEMICU KESEPIAN?
Ada tiga alasan fundamental mengapa sistem ini justru memutus koneksi manusiawi yang autentik:
Matinya Keberagaman Interaksi: Hubungan antarmanusia tumbuh dari proses memahami perbedaan. Saat algoritma hanya mempertemukan kita dengan orang yang "setipe", kita kehilangan seni berkompromi dan berempati terhadap perspektif lain.
Validasi Semu vs. Koneksi Nyata: Kita sering mengejar angka (likes, views, dan shares) sebagai pengganti kehadiran fisik. Namun, angka-angka tersebut hanyalah dopamin sementara yang tidak pernah bisa memuaskan kebutuhan batin akan rasa memiliki (sense of belonging).
Paradoks Perbandingan: Algoritma selalu mendorong konten yang paling "sempurna" dan "viral". Hal ini menciptakan ilusi bahwa semua orang di dunia sedang berbahagia, kecuali kita. Kita merasa sepi karena merasa gagal mencapai standar hidup yang sebenarnya telah dikurasi secara artifisial.
KONTEKS LOKAL: FENOMENA "NONGKRONG HENING"
Di Indonesia, yang dikenal sebagai salah satu negara paling sosial di dunia, dampak ini mulai mengikis budaya kolektif. Kita sering melihat sekelompok orang duduk di meja yang sama di sebuah kafe, namun mata mereka terpaku pada layar masing-masing. Inilah "Nongkrong Hening".
Algoritma telah menjadi "orang ketiga" yang memutus komunikasi verbal. Kita lebih mengenal kabar terbaru dari seorang influencer di layar daripada memahami keluh kesah sahabat yang duduk tepat di depan kita. Budaya musyawarah dan tegur sapa mulai tergantikan oleh jempol yang sibuk menghakimi di kolom komentar.
KESIMPULAN : MENGAMBIL ALIH KENDALI
Teknologi seharusnya menjadi jembatan, bukan dinding penyekat. Untuk memecahkan kaca spion digital ini, kita perlu secara sadar melakukan Algorithmic Breakout---dengan sengaja mencari informasi yang berbeda, membatasi durasi layar, dan mengutamakan kehadiran fisik tanpa gangguan ponsel.
Dunia ini terlalu luas dan berwarna untuk hanya dilihat melalui lubang kunci algoritma yang sempit. Koneksi yang paling berharga seringkali ditemukan pada momen-momen yang tidak bisa "di-klik", "di-post", atau diprediksi oleh barisan kode komputer.
Penulis : Juanda Tri Ulandari
(Sumber gambar : Juanda Tri Ulandari)
Penulis merupakan Mahasiswa program studi ilmu komunikasi semester 3, Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, Universitas Teknologi Sumbawa. Juanda memiliki ketertarikan pada isu isu sosial, media dan perkembangan teknologi informasi dalam kehidupan masyarakat.
Contact person : 08195411531
Editor : Rizky Alfatiha Suri, S.I.Kom

